BNI INTERNET BANKING

STOP!! UNTUK KELANCARAN TRANSAKSI BNI ANDA, SEBAIKNYA ANDA LOGIN MENGGUNAKAN INTERNET EXPLORER!!

Anda Tamu Saya ke: HTML Counter


Designed by:

Bank berlomba mengusung produk dan pelayanan berbasis teknologi. PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Sumber: Tofik Iskandar   
Sabtu, 17 Juli 2010 23:26
PERKEMBANGAN teknologi di industri perbankan termasuk yang paling cepat dibandingkan dengan industri keuangan lain. Maklum, aksi kejahatan yang menimpa perbankan terbilang tinggi. Malah, sekarang ini para pelaku kejahatan di perbankan makin pintar dalam melakukan aksinya.

             Kasus pembobolan dana nasabah melalui automatic teller machine (ATM), beberapa waktu lalu, contohnya. Memang, bank-bank sudah melakukan antisipasi dengan sistem keamanan yang tergolong bagus, di antaranya penggunaan teknologi magnetic stripe di balik kartu ATM-nya dan personal identification number (PIN). Tapi, ternyata itu saja tidak cukup. Buktinya, bandit-bandit perbankan masih bisa menembusnya.

 

 

Bank berlomba mengusung produk dan pelayanan berbasis teknologi. Selain peluang, tak sedikit tantangan yang harus dihadapi.

Sumber: Tofik Iskandar

Internet banking; kental dengan teknologi

 

PERKEMBANGAN teknologi di industri perbankan termasuk yang paling cepat dibandingkan dengan industri keuangan lain. Maklum, aksi kejahatan yang menimpa perbankan terbilang tinggi. Malah, sekarang ini para pelaku kejahatan di perbankan makin pintar dalam melakukan aksinya.

 

            Kasus pembobolan dana nasabah melalui automatic teller machine (ATM), beberapa waktu lalu, contohnya. Memang, bank-bank sudah melakukan antisipasi dengan sistem keamanan yang tergolong bagus, di antaranya penggunaan teknologi magnetic stripe di balik kartu ATM-nya dan personal identification number (PIN). Tapi, ternyata itu saja tidak cukup. Buktinya, bandit-bandit perbankan masih bisa menembusnya.

 

            Industri perbankan dan Bank Indonesia (BI) sebenarnya sejak lama telah menyadari bahwa masih ada celah di keamanan teknologi magnetic stripe. Karena itu, BI mengeluarkan aturan main dan mengimbau bank-bank segera migrasi ke teknologi chip, dari seluruh kartu kredit hingga seluruh kartu debit dan ATM.

 

            Migrasi ke teknologi chip untuk kartu kredit bisa dibilang sudah tuntas. Tapi, untuk kartu debit dan ATM belum. Hal ini bisa dimengerti mengingat begitu banyak jumlah kartu debit dan ATM.

 

            Menurut data BI, per Januari 2010, jumlah kartu debit dan ATM sebanyak 41,38 juta. Migrasi ke teknologi chip untuk kartu debit dan ATM tentu akan memakan waktu lebih dari lima tahun. Untuk kartu kredit yang jumlahnya 12 jutaan saja membutuhkan waktu lebih kurang tiga tahun.

 

            Selain urusan migrasi ke teknologi chip, sebenarnya masih banyak tantangan lain yang juga harus dihadapi industri perbankan terkait dengan teknologi. Sebab, sejak teknologi lahir ke dunia, sejak itu pula teknologi akan selalu menjadi salah satu tantangan bagi industri perbankan.

 

            Tantangan yang dihadapi perbankan dewasa ini tidak saja bagaimana menyediakan produk dan kanal pelayanan dengan cita rasa teknologi. Tapi, yang juga tak kalah penting adalah bagaimana meningkatkan peran teknologi untuk keperluan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance atau GCG) dan manajemen risiko (risk management).

 

            Pasalnya, salah satu persoalan yang menjadi sorotan masyarakat terhadap industri keuangantermasuk industri perbankan tentunyaadalah soal fraud yang marak terjadi belakangan ini. Sudah menjadi hal lumrah, kalau terjadi krisis, pasti yang menjadi tersangka adalah industri keuangan.

 

            Bank yang memiliki IT (information technology) andal, GCG, dan manajemen risiko yang terjaga, maka bank itu yang akan survive ketika akan menghadapi situasi sulit, tukas Agus Martowardojo, Direktur Utama Bank Mandiri, di acara paparan kinerja 2009 Bank Mandiri, akhir Maret lalu, di Jakarta. Tantangan terkait dengan teknologi masih cukup banyak yang harus dijawab industri perbankan, kendati peluangnya juga tak kalah banyak. Seiring dengan perkembangan teknologi yang sudah berhasil mengikis habis batas ruang dan waktu sehingga membuat ketergantungan masyarakat terhadap teknologi begitu tinggi, peluang industri perbankan mengusung produk dan pelayanan yang sarat dengan teknologi pastinya bak gayung bersambut.

 

            Kalau nggak ada IT seperti apa ya. Di rumah tanpa internet saja sudah seperti apa. Ke depan ketergantungan masyarakat akan IT besar sekali. Waktu saya coba internet banking saja, misalnya, saya baru ngerasain, oh ternyata sangat mengirit banyak waktu, tenaga. Mudah sekali, nggak usah bolak-balik, dan dokumentasi juga bagus. Jadi, untuk IT itu sudah must. Mungkin, bukan must lagi kali ya. Kudu! ujar Parwati Surjaudaja, Direktur Utama OCBC NISP, kepada Apriyani Kurniasih dan Tofik Iskandar dari Infobank, medio Maret lalu.

 

            Nah, sudah sejauh mana perhatian industri perbankan secara keseluruhan terhadap teknologi? Melihat ajang The Asia Pasific Conference and Exhibition (Apconex) yang diselenggarakan Perhim­punan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) dalam empat tahun terakhir, jelas bahwa perhatian industri perbankan terhadap teknologi begitu besar. Tampaknya hal itu masih akan terus berlanjut pada penyelenggaraan Apconex tahun ini yang menurut rencana akan diselenggarakan pada 28 hingga 30 April mendatang. Adapun tema yang diusung kali ini adalah Financial Service Enhancements To Accelerate Economic Recovery.

 

 

 Jangan Sekadar

 

Nice to Have

 

KINI perbankan maupun nasabah sama-sama punya ketergantungan terhadap teknologi. Bagaimana perkembangan teknologi informasi (TI) di industri perbankan hingga saat ini? Bagaimana agar produk dan pelayanan bank yang berbau teknologi tidak mati di tengah jalan? Berikut penuturan Andi M. Hatta, pengamat TI perbankan, kepada Infobank melalui telepon, medio Maret lalu. Petikannya:

 

 

 

            Bagaimana Anda melihat perkembangan TI perbankan hingga saat ini?

 

            Yang sangat mendasari perkembangan TI di perbankan atau bisnis lainnya, pertama, computer power yang makin hari makin kuat dan harganya makin murah. Cuma, kalau mengandalkan computer power saja, kadang-kadang masih ada kesulitan. Sebab, seakan-akan kita mempunyai mobil yang mesinnya besar sekali, yang larinya bisa 300-400 kilometer per jam. Tapi, apa gunanya mesin yang besar kalau jalanannya kecil.

 

            Makanya, kita masuk yang kedua, yaitu ada revolusi yang namanya bandwith atau yang saya sebut itu jalanannya. Kalau dulu memang bandwith masih kecil. Tapi, kan sekarang sudah membesar.         Jadi, beranjak dari dua hal penting itu sebetulnya apa saja kita bisa lakukan asal kita bisa memanfaatkannya. Dan, revolusi mengenai computer power maupun bandwith ini akan berlanjut terus.

 

            Banyak sekali bank yang mempergunakan TI di dalam pekerjaan sehari-hari. Dulu kita berbicara mengenai internet banking, call center, macam-macamlah. Itu mungkin basic. Sekarang sudah banyak sekali pengembangannya. Lalu, dulu, misalnya, kita masih pakai kabel kan. Sekarang sudah ada yang namanya cloud. Nah, hal-hal itu sudah seharusnya jauh-jauh hari diantisipasi perbankan. Jadi, bank itu harus maju selangkah dibandingkan dengan produk-produk standar yang dipergunakan bank lain.

 

            Bagaimana penggunaan teknologi untuk manajemen risiko (risk management) dan mencegah fraud?

 

            Kalau teknologi disalahgunakan, tentu akan menjadi masalah besar. Khusus di perbankan, untuk transaksi yang masih menggunakan magnetic stripe tentu harus segera beralih ke teknologi chip. Kendati teknologi chip sebenarnya sudah lama. Contoh kasus lemahnya penggunaan teknologi magnetic stripe itu kan seperti kasus pembobolan ATM kemarin-kemarin.

 

            Tapi, memang penggunaan teknologi chip itu mahal. Kalau nggak salah harganya US$2 sampai US$3. Jadi, kalau misalnya punya satu juta customer, ya tinggal kalikan saja tuh. Itu belum sistemnya, belum perangkatnya, belum ATM, dan segala macam. Jadi, memang biayanya sangat besar, tetapi itu harus kita lakukan. Kalau kita nggak lakukan itu, akan banyak sekali potensi fraud karena sistem magnetic stripe itu sudah sangat gampang untuk diakalin.

 

            Bagaimana agar produk dan pelayanan bank yang berbau teknologi tidak mati di tengah jalan?

 

            Kuncinya, pertama, mesti ada support dan komitmen kuat dari manajemen yang paling tinggi karena saat kita ingin membuat sesuatu pastinya ada perdebatan dari mana pun. Kedua, harus ada komitmen dalam jangka panjang untuk merealisasikan ide itu. Dan, yang tak kalah penting, harus ada monitor dan berbicara dengan nasabah mengenai produk itu. Kalau itu tidak dilakukan, bisa mati di tengah jalan produk itu.

 

            TI itu jangan dipergunakan hanya sekadar nice to have. Artinya, kalau suatu bank punya TI itu, misalnya, terus kita juga harus punya itu. Nggak bisa begitu. Tapi, pemanfaatan TI akan bagus sekali kalau memang benar-benar untuk kebutuhan nasabah dan harus dilakukan secara proporsional. Dalam arti harus berdasarkan riset dan survei mendalam, misalnya tiga tahun lagi akan seperti apa. Karena, terkadang, nasabah membutuhkan suatu produk atau jasa yang tidak perlu teknologi tinggi amat kan.

 

            Bagaimana menurut Anda Arsitektur Teknologi Perbankan Indonesia (ATPI), yang kelihatannya mati suri?

 

            Makanya, itu kembali lagi kepada komitmen. Karena, kalau tidak komitmen, tentunya hal itu tidak akan ada lagi yang melanjutkan. Idealnya orang-orang yang menciptakan itu dapat menyelesaikan sampai tuntas, baru diserahkan kepada orang lain. Kalau itu dilakukan setengah-setengah, terus diserahkan kepada orang lain, tentu komitmennya akan berkurang. Nah, di situ biasanya mati di tengah jalan. TI

 

Terakhir Diperbaharui ( Minggu, 18 Juli 2010 00:29 )
 

Employee On Facebook

 

Hotline:081-548-559-559

KONTAK SAYA

Tinggalkan Pesan

Pendapat Anda mengenai Internet Banking BNI?

Pendapat Anda mengenai Internet Banking BNI?