MENGGERAKKAN RODA PEREKONOMIAN KECIL Cetak
Ditulis oleh suprapto.com   
Sabtu, 05 Desember 2009 10:47

            Suatu pagi sekitar jam 07.00 WIB lewatlah seorang pemuda penjual sayur keliling di depan rumah saya, sambil teriak – teriak menawarkan dagangannya. “Sayur..! Sayuuur..! Sayurnya , bu..! Ia tidak terlihat membawa dagangannya. Biasanya ia memarkirkan motor yang membawa dagangannya di pinggir perempatan jalan kampung.

Mungkin karena bawaannya berat, maka ia hanya berjalan saja sambil menawarkan barang dagangannya. Baru setelah ada yang tertarik membeli, ia akan membawa barang motor yang membawa dagangannya kedepan rumah calon pembelinya. Biasanya seperti itu. Ia menawarkan sayurannya kepada ibu saya, ” Sayuripun, bu...” Ibu saya menjawab, ”mboten mas, sampun masak, badhe kesahan”.[1] Mendengar jawaban ibu pada penjual sayur, saya menghapiri ibu. Saya sarankan pada beliau untuk membeli dagangannya barang sedikit, seribu atau duaribu rupiah, tidak mengapa, yang penting ada barang dagangannya yang kita beli. Kalau sudah memasak sayur, beli kerupuk saja seribu. Saya sampaikan bahwa pemuda tersebut telah datang menawarkan dagangannya, itu bisa kita artikan ada rejeki dari tuhan yang datang ditawarkan pada kita. Kita bisa membalas menawarkan rejeki kepadanya dengan menawar dagangannya. Penjelasan saya bisa diterima, akhirnya ibu membeli krupuk dua ribu rupaih. Transaksi jual beli telah dilakukan.

            Mengalami peristiwa tersebut saya jadi teringat pada materi kuliah ekonomi makro pada semester satu dulu. Dosen saya Bapak Prof. Bambang Setiaji mengatakan bahwa dari dua sektor perekonomian, yaitu sektor riil dan moneter, maka yang lebih perlu mendapat perhatian adalah sektor riil. Sektor riil seperti seperti produksi barang, industri, jual beli barang dan lain- lain secara nyata berperan lebih penting dari sektor ekonomi moneter seperti perdagangan saham, jual beli valas, dll yang menurut beliau adalah hanya bayangan dari sektor riil.

            GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Pendapatan Domestik Bruto) yang merupakan salah satu alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan suatu bangsa diukur dari jumlah nilai pasar produk riil dan jasa , yang bisa dihitung pada sebuah negara pada periode tertentu. Tiap barang dan jasa memiliki nilai yang berbeda. Tempe dan tahu memliki nilai pasar yang berbeda. Menurut N. Gregory Mankiw, bahwa PDB menambahkan berbagai jenis produk yang berbeda  dalam satu ukuran tunggal mengenai nilai aktivitas perekonomian. Untuk melakukan hal tersebut digunakanlah harga-harga pasar. Karena harga-harga mengukur jumlah yang rela dibayarkan orang untuk barang-barang yang berbeda, maka harga-harga pasar mencerminkan nilai dari barang-barang tersebut.[2]

Tingkat Produksi dan jasa yang tinggi harus juga di imbangi oleh kemampuan daya beli masyarakat sebagai pasarnya. Di sini masyarakat sebagai pasar berperan sangat penting. Komponen yang memiliki nilai paling tinggi dalam mengukur PDB adalah konsumsi masyarakat. Teori makro ekonomi menyatakan ”Supply create its own demand”, bahwa ada penawaran maka ada permintaan atau bisa juga sebaliknya Konsumsi masyarakat yang tinggi secara simultan akan mendogkrak produksi barang. Jika produksi barang meningkat, maka akan di butuhkan bahan baku sebagai bahan dasarnya. Akan dibutuhkan mesin untuk memproduksinya dan alat transportasi untuk memindahkan atau memasarkan barang hasil produksi.Yang paling penting adalah akan dibutuhkan banyak tambahan tenaga kerja untuk proses produksinya, otomatis juga mengurangi jumlah pengangguran karena tersedia lapangan pekerjaan. Pekerja akan menerima upah atau gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganyanya. Istrinya akan membelanjakannya  untuk membeli beras, sayuran, minyak goreng. Karena ada permintaan barang tersebut tersebut, petani akan menanam padi menjadi beras, sayurmayur, kelapa sawit untuk diolah menjadi minyak goreng dan seterusnya.

Roda perekonomian masyarakat kecil-menengah memberikan sumbangan cukup besar pada pengukuran tingkat ekonomi nasional. Di Indonesia, keberadaan pasar – pasar tradisional masih memegang peran cukup signifikan. Produksi barang dan kegiatan jasa serta transakasi jual beli yang berlangsung didalamnya memiliki andil cukup besar dalam menggerakkan perekonomian nasional. Dalam kapasitasnya masing-masing, pedagang sayur keliling, penjual koran, tukang minyak, PKL, tukang becak, tukang cukur, jasa perbaikan kulkas dan lain-lain adalah insan – insan yang berperan penting dalam menggerakkan sektor riil. Apabila sektor riil meningkat, maka diharapkan akan menggerakkan sektor moneter. Produksi akan meningkat. PDB akan meningkat , dan secara berkesinambungan akan meningkatkan kesejahteraan seluruh bangsa. Oleh sebab itu, keberadaan mereka harus didukung sepenuhnya oleh masyarakat dan pemerintah.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu...”(QS.An- Nisa (4):29). Ajaran agama  mendorong umatnya untuk melakukan perniagaan dengan cara yang baik, saling ridho antara penjual dengan pembeli. Satu peran kecil kita untuk membeli dengan harga duaribu rupiah, apabila dilakukan oleh- katakanlah seratus juta orang pada waktu yang bersamaan, maka secara keseluruhan akan terjadi transaksi jual beli secara riil senilai 200 miliar rupiah! Ini lebih berarti untuk meningkatkan perekonomian bangsa dari pada transaksi jual beli dengan nilai yang sama pada sektor moneter yang semu. Oleh sebab itu, jangan pernah biarkan penjual sayur keliling, bakul krupuk atau penjual koran lewat begitu saja di depan mata kita!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Tidak mas, sudah masak, saya akan bepergian keluar.

[2] N.Gregory Mankiw, Principles of Economics, 2006

Terakhir Diperbaharui ( Minggu, 18 Juli 2010 01:22 )