Al-Quran 30:33
وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ ضُرٌّ دَعَوْا۟
رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَآ أَذَاقَهُم مِّنْهُ رَحْمَةً إِذَا فَرِيقٌ
مِّنْهُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ
Dan apabila manusia ditimpa oleh
suatu bahaya, mereka menyeru Tuhannya dengan kembali (bertaubat) kepada-Nya,
kemudian apabila Dia memberi sedikit rahmat-Nya[1] kepada mereka, tiba-tiba
sebagian mereka menyekutukan Allah.
And when adversity touches the
people, they call upon their Lord, turning in repentance to Him. Then when He
lets them taste mercy from Him, at once a party of them associate others with
their Lord,
Indonesian
- Tafsir Kemenag RI
(33) Ayat ini menerangkan satu
bentuk negatif prilaku manusia, yaitu bila ditimpa kesusahan, mereka
mendekatkan diri kepada Allah. Lalu setelah kesusahan itu hilang dan berganti
dengan keberuntungan, mereka kembali menyekutukan Allah. Kesusahan itu bisa berupa
kemelaratan, sakit, musibah, bencana, dan sebagainya. Ungkapan bahwa kesusahan
itu hanya "menyentuhnya" berarti hanya ringan dan sesaat dari masa
hidupnya yang panjang, tidak sampai "menimpanya" dengan dahsyat.
Namun demikian, hanya dengan sentuhan sedikit kesusahan saja, mereka sudah
merasa dunia ini gelap. Mereka segera berdoa kepada Allah agar segera
dilepaskan dari kesusahan itu. Doa itu mereka iringi dengan mendekatkan diri
kepada Allah. Mereka rajin beribadah, memohon ampun atas dosa-dosanya, dan
berjanji akan patuh melaksanakan perintah-perintah Allah pada masa yang akan
datang. Dengan demikian, mereka kembali kepada fitrah mereka. Akan tetapi,
kepatuhan mereka itu hanya sebentar, yaitu selama kesusahan itu masih terasa.
Ketika kesusahan itu diganti Allah dengan "mencicipkan" kepadanya
sedikit kebahagiaan saja, sebagian mereka sudah lupa diri dan kembali
menyekutukan Allah. Menyekutukan Allah itu maksudnya mempercayai adanya unsur
lain yang berperan dalam membuat mereka beruntung atau susah, baik berupa
berhala, setan, ataupun manusia. Satu kesalahan besar jika mereka memandang
keuntungan usaha itu sebagai hasil usaha dan kerja keras mereka sendiri,
sehingga mereka tidak mensyukuri nikmat itu. Mereka juga tidak menggunakan
nikmat tersebut menurut semestinya sebagaimana yang dikehendaki oleh
Pemberinya, Allah. Dengan demikian, mereka mengotori fitrah mereka.